ANALITIKNEWS.COM – Pemerintah sementara Venezuela yang dipimpin Delcy Rodríguez menetapkan tujuh hari masa berkabung nasional. Keputusan ini diumumkan pada Selasa (6/1/2026) waktu setempat, menyusul operasi militer Amerika Serikat di Caracas yang menewaskan sejumlah warga sipil.
Rodríguez menegaskan bahwa masa berkabung ini merupakan bentuk penghormatan terhadap para korban, terutama kaum muda, perempuan, dan laki-laki yang telah berjuang mempertahankan Venezuela serta Presiden Nicolás Maduro.
“Saya telah memutuskan untuk menetapkan tujuh hari berkabung untuk menghormati dan memuliakan kaum muda, perempuan, dan laki-laki yang mengorbankan nyawa mereka untuk membela Venezuela dan Presiden Nicolás Maduro,” kata Rodríguez dalam pidatonya pada Selasa (6/1/2026) waktu setempat.
Masa berkabung akan berlangsung selama satu pekan dengan berbagai kegiatan peringatan, termasuk upacara penghormatan di ibu kota dan daerah-daerah lain.
Serangan AS ke Venezuela
AS melakukan serangan di Caracas untuk menangkap Maduro pada Sabtu (3/1) waktu setempat. AS mengatakan kerahkan hampir 200 tentaranya pada operasi itu.
Kuba dan Venezuela mengatakan 55 personel militer mereka tewas dalam serangan AS. Sementara jaksa agung Venezuela berbicara tentang puluhan korban tewas sipil dan militer, tanpa memberikan rinciannya.
Operasi militer tersebut berujung dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS.
Korban tewas dalam serangan AS mencakup warga sipil dan anggota militer. Salah satu serangan udara menghantam sebuah bangunan hunian tiga lantai di kawasan La Mar Catia, wilayah pesisir yang terletak di sebelah barat Bandara Caracas, Venezuela.
Di antara korban tewas terdapat seorang perempuan lansia bernama Rosa Gonzalez (80), bersama anggota keluarganya. Selain korban tewas, serangan tersebut juga menyebabkan korban luka-luka.
Kebingungan dan kepanikan menyelimuti warga di Caracas, Venezuela, ketika AS meluncurkan serangan. Pada tengah malam, warga berhamburan menuju jendela dan teras rumah. Sejumlah warga juga melaporkan listrik padam di berbagai titik.
“Dari sini, kami bisa mendengar ledakan di sekitar Fort Tiuna,” kata Emmanuel Parabavis (29), seperti pemberitaan AFP. Fort Tiuna merupakan salah satu pangkalan militer terbesar di Venezuela.
Trump Klaim AS Akan Kelola Minyak di Venezuela
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Washington akan memimpin Venezuela dalam masa transisi setelah penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers di klub Mar-a-Lago, Florida, Minggu (4/1/2026), hanya beberapa jam setelah aparat keamanan menangkap Maduro.
Trump menekankan bahwa Amerika Serikat akan segera mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak raksasa untuk masuk ke Venezuela. Ia menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan menginvestasikan miliaran dolar guna memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah akibat krisis berkepanjangan.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat—yang terbesar di dunia—untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” ujar Trump dengan nada tegas.
Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak hanya memperbaiki aset minyak Venezuela, tetapi juga akan mengambil peran aktif dalam menjual “sejumlah besar” minyak ke pasar internasional.
Ia menilai langkah ini akan menguntungkan Venezuela sekaligus memperkuat posisi Amerika Serikat sebagai pemimpin energi global.
(*)










