Negosiasi Masih Alot, Iran Kembali Ajukan Proposal Damai ke AS Lewat Pakistan

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei
banner 120x600
banner 468x60

ANALITIKNEWS.COM  – Pemerintah Iran kembali melanjutkan upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah dengan mengirimkan proposal terbaru kepada Amerika Serikat (AS).

Proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan yang kini memainkan peran penting sebagai mediator antara Teheran dan Washington.

banner 325x300

Langkah diplomatik terbaru ini muncul di tengah kondisi gencatan senjata yang telah berlangsung selama enam minggu namun mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan. Meski komunikasi antar kedua negara masih terus berlangsung, proses negosiasi damai berjalan lambat akibat masih adanya perbedaan tuntutan dari masing-masing pihak.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa respons Teheran terhadap proposal yang sebelumnya diajukan Washington telah diteruskan kepada pemerintah AS melalui Islamabad.

“Respons Iran terhadap proposal terbaru Amerika telah kami sampaikan melalui mediator Pakistan,” ujar Baghaei seperti dikutip dari sejumlah media internasional, Selasa (19/5/2026).

Ia menegaskan bahwa tuntutan Iran merupakan posisi resmi yang terus dipertahankan dalam setiap putaran negosiasi dengan AS.

“Poin-poin yang diangkat adalah tuntutan Iran yang telah dipertahankan dengan tegas oleh tim negosiasi Iran di setiap putaran negosiasi,” ujarnya.

Iran Tetap Minta Sanksi Dicabut

Dalam proposal tersebut, Iran meminta AS mencairkan aset-aset milik Teheran yang selama ini dibekukan di luar negeri. Selain itu, Iran juga menuntut pencabutan berbagai sanksi ekonomi yang selama bertahun-tahun membebani perekonomian negara tersebut.

Tidak hanya itu, Iran turut meminta kompensasi atas kerusakan akibat perang serta penghentian blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pemerintah Teheran juga mendesak penghentian pertempuran di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon yang hingga kini masih menjadi lokasi bentrokan antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Iran menilai tuntutan tersebut merupakan syarat penting untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan. Namun sejauh ini Washington belum menunjukkan tanda-tanda akan menerima seluruh syarat yang diajukan Teheran.

Trump Ancam Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam Iran dengan ultimatum tegas. Ia menegaskan, jika Teheran tidak segera menyetujui kesepakatan damai dengan Washington, negara itu “tidak akan ada yang tersisa”. Pernyataan ini disampaikan melalui platform Truth Social miliknya pada Minggu, 17 Mei 2026.

“Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya bergerak CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT KRUSIAL!” tulis Trump. Ancaman ini muncul setelah Trump memerintahkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari lalu, menandai eskalasi militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah.

Perang AS-Iran Memicu Krisis Regional

Konflik antara AS dan Iran telah memperluas ketegangan di Timur Tengah. Teheran menanggapi agresi Amerika dengan memblokade Selat Hormuz, jalur strategis sekitar 20 persen ekspor minyak dunia. Tindakan ini meningkatkan risiko krisis energi global dan melibatkan negara-negara tetangga, termasuk Israel dan Lebanon, yang terjerat dalam konflik yang lebih luas.

Kebuntuan diplomatik tetap menjadi kendala utama. Meskipun Amerika Serikat mengajukan proposal damai, Iran menyatakan tuntutan Washington terlalu tinggi dan sulit diterima. Perundingan antara kedua negara terus berlangsung, namun belum menghasilkan kesepakatan.

(*)

1.100 Tayangan
banner 325x300