Budaya  

Anugerah PWI Pusat 2026, Andi Harun Sabet Trofi Abyakta Lewat Sarung Samarinda

Wali Kota Samarinda, Andi Harun presentasikan Sarung Samarinda di Penganugerahan kebudayaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat
Wali Kota Samarinda, Andi Harun presentasikan Sarung Samarinda di Penganugerahan kebudayaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat
banner 120x600
banner 468x60

ANALITIKNEWS.COM  – Sebuah kebanggaan besar kembali hadir untuk Kota Samarinda.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, berhasil menyabet Trofi Abyakta dalam ajang bergengsi Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat 2026 yang digelar di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat (9/1/2026) malam.

banner 325x300

Penghargaan ini menjadi bukti nyata komitmen Andi Harun dalam mengangkat Sarung Samarinda sebagai simbol budaya sekaligus identitas kota.

Di bawah kepemimpinannya, sarung khas Samarinda tidak lagi sekadar busana adat, melainkan hadir di berbagai ruang publik, forum resmi, hingga aktivitas keseharian warga.

Sebelumnya, dalam tahap pengajuan proposal, Andi Harun mengusung judul “Dari Wastra Lokal Menuju Kebudayan Nasional” berada di peringkat kedua setelah Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dengan selisih nilai 5 poin.

Pengakuan dari Panitia

Ketua Panitia Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menyebut Trofi Abyakta sebagai bentuk pengakuan tertinggi bagi kepala daerah yang mampu menyinergikan kebudayaan dengan kebijakan publik secara konsisten dan berdampak.

“Penghargaan ini menegaskan Samarinda bukan sekadar membangun kota, tetapi juga merawat makna. Dari selembar sarung, lahir pesan tentang jati diri, keberlanjutan, dan masa depan kebudayaan yang tidak ditinggalkan oleh zaman,” ujar Yusuf.

Andi Harun Paparkan  Sarung Samarinda

Sebelumnya, Andi Harun dalam Presentasinya mengatakan bahwa sarung khas Samarinda bukan sekadar warisan, melainkan kekuatan sosial, ekonomi, dan identitas kota.

“Sarung Samarinda lahir dari proses panjang akulturasi budaya. Ia hidup bersama masyarakat, bukan disimpan sebagai benda museum,” kata Andi Harun.

Menurut Andi Harun, penguatan Sarung Samarinda diarahkan pada tiga aspek utama: identitas kota, pembentuk nilai sosial, dan sumber penghidupan masyarakat.

“Kalau budaya mampu menghidupi warganya, maka tugas pemerintah adalah memastikan ia bertahan dan berkembang,” tegasnya

Tantangan di Era Modern

Andi Harun menegaskan bahwa Sarung Samarinda saat ini menghadapi tantangan besar di era modern.

Ia menyebutkan tekanan dari produk tekstil yang masif serta perubahan selera generasi muda yang terus berkembang.

“Tekanan produk tekstil yang masif, lalu kemudian selera generasi muda yang terus berubah seiring dengan perkembangan peradaban,” kata Andi Harun.

Ia juga menyoroti kerentanan Sarung Samarinda terhadap risiko komersialisasi yang bisa mengikis nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

“Pada akhirnya Sarung Samarinda menghadapi kerentanan terhadap reiko komersialisasi,” ujar Andi Harun.

Meski demikian, Andi Harun menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak boleh pemerintah sikapi dengan penyesalan. Ia menekankan bahwa pemerintah harus menghadapi kenyataan itu dengan kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya.

“Bagi Kami, tantangan tidak bisa kami sesali karena itu kenyataan yang harus kita hadapi. Tetapi untuk meninimalkan gap itu, tantangan ini itu harus kita hadapi dengan kebijakan,” pungkasnya.

Makna Trofi Abyakta

Untuk diketahui, Trofi Abyakta merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat melalui Anugerah Kebudayaan PWI (AK-PWI).

Kata Abyakta, yang berasal dari bahasa Sanskerta, bermakna hati yang terang atau manifestasi yang terlihat, sebuah filosofi tentang kejernihan gagasan dan keberanian mewujudkan nilai budaya dalam kebijakan nyata.

Penghargaan ini diberikan kepada bupati atau wali kota yang dinilai berhasil menginovasi sekaligus melestarikan kebudayaan daerahnya, dengan komitmen kuat melindungi dan mengembangkan budaya lokal di wilayah kepemimpinannya.

Proses penilaian dilakukan secara ketat melalui presentasi gagasan kebudayaan di hadapan dewan juri nasional PWI.

(*)

banner 325x300