Tolak Tunduk pada AS, Iran Tegaskan Negosiasi Bukan Bentuk Menyerah

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian

ANALITIKNEWS.COM – Iran menegaskan keputusan membuka peluang dialog dengan Amerika Serikat bukan berarti Iran menyerah terhadap tekanan musuh.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negosiasi dilakukan sebagai bagian dari strategi mempertahankan hak dan kepentingan nasional Iran.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat menghadiri pertemuan gugus tugas rekonstruksi kerusakan akibat perang di Teheran. Dalam forum tersebut, ia kembali menegaskan sikap tegas Iran terhadap tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.

“Jika ada pembicaraan mengenai dialog atau negosiasi, itu tidak berarti menyerah atau mundur, melainkan bertujuan untuk mengamankan hak-hak bangsa Iran dan secara tegas membela kepentingan nasional,” kata Pezeshkian dalam pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah IRNA pada Minggu (10/5).

Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan negara lain. “(Iran) tidak akan pernah tunduk di hadapan musuh,” tegasnya lagi seperti dikutip Anadolu Agency.

Konflik Iran dan AS Masih Berlangsung

Pernyataan Presiden Pezeshkian muncul ketika Iran dan Amerika Serikat masih menjalani perundingan intensif melalui Pakistan sebagai mediator.

Kedua negara terus mencari jalan untuk mengurangi eskalasi konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Iran juga telah mengirimkan tanggapan resmi atas proposal perdamaian yang diajukan AS.

Tanggapan tersebut disampaikan melalui Pakistan yang berperan sebagai negara penengah dalam komunikasi kedua pihak.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengaku tidak puas dengan respons yang diberikan Teheran terhadap proposal damai Washington. Trump bahkan secara terbuka menunjukkan penolakannya melalui unggahan di media sosial Truth Social.

“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya – SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” tulis Trump seperti dikutip AFP.

Meski demikian, Trump tidak menjelaskan secara rinci isi syarat yang diajukan Iran dalam respons tersebut.

Pernyataan singkat itu justru memunculkan berbagai spekulasi mengenai poin-poin utama yang masih menjadi perdebatan dalam proses negosiasi.

Fokus Iran pada Penghentian Perang

Menurut laporan stasiun televisi pemerintah IRIB, tanggapan Iran terhadap proposal damai AS berfokus pada penghentian perang di seluruh lini konflik, terutama di wilayah Lebanon.

Iran disebut ingin memastikan bahwa kesepakatan damai tidak hanya menghentikan ketegangan di satu kawasan, tetapi juga menciptakan stabilitas regional yang lebih luas.

Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebut Iran kemungkinan menawarkan kompromi terkait program nuklirnya.

Dalam usulan tersebut, sebagian uranium yang diperkaya dengan tingkat tinggi akan diencerkan, sementara sisanya dipindahkan ke negara ketiga.

Namun Iran juga mengajukan syarat penting dalam proposal itu. Teheran meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan dapat dikembalikan apabila negosiasi gagal atau jika Amerika Serikat kembali menarik diri dari perjanjian yang telah disepakati.

(*)

1.123 Tayangan
Exit mobile version