ANALITIKNEWS.COM – Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak untuk segera mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Desakan ini disampaikan saat Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Beijing pada Rabu (6/5).
Dalam pertemuan ini, kedua pihak membahas perkembangan konflik di Timur Tengah serta upaya meredakan ketegangan yang masih berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya diplomasi Beijing untuk mendorong stabilitas kawasan dan menghidupkan kembali jalur negosiasi yang sempat terhenti.
“China menganggap bahwa penghentian pertempuran secara menyeluruh harus dicapai tanpa penundaan, bahwa memulai kembali permusuhan bahkan lebih tidak dapat diterima, dan bahwa melanjutkan negosiasi tetap penting,” kata Wang Yi dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.
Wang juga meminta semua pihak yang terlibat konflik untuk merespons seruan komunitas internasional dengan cepat dan bertanggung jawab demi mencegah jatuhnya korban lebih banyak.
Selain isu konflik, Wang Yi menyoroti pentingnya kelancaran jalur perdagangan global, khususnya di kawasan Teluk. Ia secara khusus menekankan perlunya pembukaan kembali lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
Wang menyatakan bahwa China berharap semua pihak segera mengambil langkah nyata untuk memastikan keamanan pelayaran internasional.
“Mengenai masalah nuklir, China menyambut baik komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sambil mempertimbangkan bahwa Iran memiliki hak yang sah untuk penggunaan energi nuklir secara damai,” ucap Wang dalam pertemuan tersebut.
Dalam pembahasan isu nuklir, China menegaskan dukungannya terhadap penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai. Wang Yi juga mengapresiasi komitmen Iran yang menyatakan tidak akan mengembangkan senjata nuklir.
Ia menilai dialog tetap menjadi jalan utama untuk menghindari eskalasi lebih lanjut dan menjaga stabilitas regional.
China menyoroti dampak langsung ketegangan di Timur Tengah terhadap pasokan energi global. Negara tersebut bergantung besar pada impor minyak dari kawasan tersebut, terutama yang melewati Selat Hormuz.
Data dari perusahaan analisis maritim Kpler menunjukkan bahwa lebih dari separuh minyak mentah impor China melalui jalur laut berasal dari Timur Tengah dan sebagian besar melewati selat strategis tersebut. Karena itu, setiap gangguan di kawasan ini dapat memengaruhi keamanan energi China secara signifikan.
Wang Yi menegaskan bahwa China akan meningkatkan peran diplomatiknya untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Ia menyatakan bahwa Beijing akan terus mendorong dialog antara pihak-pihak yang bertikai.
“China akan bekerja lebih keras untuk meredakan ketegangan dan mengakhiri pertempuran, terus mendukung peluncuran perundingan damai, dan memainkan peran yang lebih besar dalam memulihkan perdamaian dan ketenangan di Timur Tengah,” kata Wang.
Dengan langkah tersebut, China menegaskan posisinya sebagai salah satu aktor penting dalam upaya menjaga stabilitas kawasan dan memastikan jalur perdagangan energi global tetap aman.
Dorongan Pembukaan Selat Hormuz
Isu Nuklir dan Posisi Iran
Kepentingan Ekonomi dan Energi China
Komitmen Diplomasi Beijing
