PDIP Buka Suara soal Rencana Jokowi Jabat Ketua Dewan Pembina PSI

Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus
Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus
banner 120x600
banner 468x60

ANALITIKNEWS.COM  – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) disebut-sebut akan mengemban jabatan Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Kabar ini lantas mendapat tanggapan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

banner 325x300

Bagi PDIP, langkah politik Jokowi ke depan bukan lagi menjadi perhatian partai belambaang kepala banteng itu setelah status keanggotaannya dicabut.

Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus menegaskan bahwa hubungan politik antara PDIP dan Jokowi telah berakhir sejak partai memutuskan untuk memecat mantan kadernya tersebut.

Karena itu, PDIP tidak merasa perlu mencampuri pilihan politik yang akan diambil Jokowi, termasuk jika bergabung secara resmi dengan PSI.

“Bagi kami, urusan dengan Jokowi sudah selesai, sudah dipecat dari keanggotaan partai. Jadi dia mau pakai jaket partai apa pun, itu urusan Jokowi,” kata Deddy saat dihubungi, Senin (15/6).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa PDIP memilih fokus pada agenda internal partai dan tidak ingin terlibat dalam polemik mengenai masa depan politik Jokowi.

Kedekatan Jokowi dan PSI Dinilai Sudah Terlihat Sejak Lama

Deddy juga menilai kabar mengenai kemungkinan Jokowi menjadi Ketua Dewan Pembina PSI bukan sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, hubungan antara Jokowi dan PSI sudah terjalin cukup lama dan terlihat dalam berbagai dinamika politik nasional.

Ia menyinggung posisi Kaesang Pangarep yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PSI. Selain itu, Deddy menilai Jokowi memiliki kontribusi dalam membesarkan PSI melalui dukungan politik yang diberikan selama beberapa tahun terakhir.

“Memangnya dari dulu dia tidak di PSI, kan anaknya sudah Ketua Umum dan sebelum itu dia membesarkan PSI dengan merekrut orang-orangnya di pemerintahan dan BUMN,” ujarnya.

Pandangan tersebut memperlihatkan keyakinan PDIP bahwa kedekatan Jokowi dengan PSI bukan fenomena baru, melainkan proses yang telah berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.

PDIP Soroti Dugaan Perekrutan Kader oleh PSI

Dalam kesempatan yang sama, Deddy mengungkapkan bahwa PDIP terus mencermati berbagai manuver politik PSI di sejumlah daerah. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah informasi mengenai upaya perekrutan kader partai lain untuk memperkuat basis organisasi PSI.

Menurut Deddy, informasi yang diterimanya menyebutkan bahwa sejumlah anggota legislatif, kepala daerah, hingga pengurus partai menjadi sasaran pendekatan politik PSI.

Ia bahkan mengaku mendengar adanya tawaran bantuan material kepada kader-kader yang bersedia bergabung dengan partai tersebut. Meski demikian, Deddy menegaskan bahwa dirinya belum dapat memastikan kebenaran informasi tersebut.

“Menurut info yang saya dengar, bahkan rata-rata ditawari bantuan material yang lumayan. Tidak tahu kebenarannya,” katanya.

Tidak Takut Hadapi Penguatan PSI

Meski menyoroti berbagai langkah politik PSI, Deddy menegaskan bahwa PDIP tidak merasa terancam oleh kemungkinan bergabungnya Jokowi ke dalam partai tersebut. Ia menilai pengalaman Pemilu 2024 menjadi bukti bahwa dukungan politik yang besar belum tentu mampu mengantarkan PSI menembus parlemen.

Deddy mengingatkan bahwa pada pemilu lalu PSI tetap gagal memperoleh kursi DPR meskipun berada dalam situasi yang menurutnya cukup menguntungkan.

“Terus terang kami tidak takut. Pemilu kemarin, saat di puncak kekuasaan dengan jaringan pemerintahan dan APH serta anggaran bansos APBN saja, mereka masih gagal masuk parlemen,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa PDIP tetap percaya diri menghadapi persaingan politik pada masa mendatang.

PSI Dinilai Akan Berhadapan dengan Banyak Partai

Lebih lanjut, Deddy menyebut bahwa upaya perekrutan kader tidak hanya menyasar PDIP. Ia mengklaim gejala serupa juga terjadi di sejumlah partai lain, termasuk NasDem, Demokrat, dan PAN.

Karena itu, menurutnya, PSI tidak hanya akan berhadapan dengan PDIP, tetapi juga dengan partai-partai lain yang merasa kadernya menjadi target pendekatan politik.

“Ingat, partai-partai lain pun akan berhadapan dengan mereka karena upaya untuk membajak kader partai-partai lain. Ini banyak sekali terlihat gejalanya, terutama di basis-basis Nasdem, Demokrat, dan PAN. Jadi mereka tidak saja berhadapan dengan PDIP, tetapi juga dengan partai-partai lain yang kadernya dipungut untuk membesarkan PSI secara instan,” katanya.

Polemik mengenai rencana peran baru Jokowi di PSI pun menambah dinamika politik nasional. Di tengah spekulasi yang berkembang, PDIP memilih menegaskan bahwa jalan politik Jokowi dan partai berlambang banteng tersebut kini telah sepenuhnya berbeda arah.

(*)

1.026 Tayangan
banner 325x300