ANALITIKNEWS.COM – Sektor manufaktur Indonesia tengah menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kelangsungan produksi industri, khususnya di sektor padat karya yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi pada rantai pasok internasional.
Pemerintah menyebut situasi tersebut tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga oleh berbagai negara lain yang terintegrasi dalam sistem perdagangan dan pasokan global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa tekanan yang terjadi saat ini merupakan dampak dari kondisi global yang tidak stabil. Ia menegaskan perlunya kewaspadaan bersama karena gangguan rantai pasok dunia dapat berdampak langsung pada kinerja industri dalam negeri.
“Situasi ini perlu menjadi perhatian, dan bukan hanya Indonesia yang menghadapi tantangan seperti ini,” ujarnya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa gangguan rantai pasok, kenaikan harga bahan baku, serta pelemahan permintaan pasar menjadi faktor utama yang menekan kinerja industri dalam negeri.
Biaya Produksi Naik, Pasar Mengalami Penurunan
Agus menegaskan bahwa industri manufaktur menghadapi tekanan simultan dari sisi bahan baku dan pasar. Ia menyebut kondisi tersebut terjadi secara luas di berbagai negara akibat ketidakstabilan geopolitik global.
“Tekanan terhadap market, ada tekanan terhadap bahan baku. Itu memang dihadapi oleh semua negara, semua pihak, dan saya yakin ini sifatnya sementara. Saya yakin,” jelasnya.
Kenaikan harga bahan baku impor serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memperberat beban pelaku industri. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat dan mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Pemerintah Tetap Optimistis terhadap Ketahanan Industri
Meski menghadapi tantangan besar, Agus menyampaikan keyakinannya bahwa industri manufaktur Indonesia memiliki kemampuan untuk bertahan. Ia menilai pengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya menjadi modal penting bagi sektor industri.
“Saya tetap percaya dengan resiliensi sektor manufaktur. Kita sudah berkali-kali mengalami krisis dengan magnitude yang luar biasa, terakhir COVID-19, di mana teman-teman manufaktur bisa menunjukkan resiliensinya,” tegas Agus.
Ia menambahkan bahwa kemampuan adaptasi industri selama pandemi menjadi bukti bahwa sektor manufaktur Indonesia mampu pulih dari tekanan global yang berat.
Serikat Buruh Ingatkan Risiko PHK Massal
Di sisi lain, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperingatkan adanya potensi PHK massal dalam beberapa bulan ke depan. Organisasi tersebut menyebutkan bahwa informasi ini berasal dari laporan langsung para pekerja di berbagai perusahaan.
Presiden KSPI Said Iqbal menyebutkan bahwa sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi yang paling rentan terdampak kondisi global saat ini.
“Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester, dan sebagainya,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/2026).
Selain sektor tekstil, KSPI juga menyoroti industri plastik yang menghadapi tekanan akibat lonjakan harga bahan baku impor. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS semakin memperburuk kondisi tersebut dan meningkatkan biaya produksi secara signifikan.
Dampak lanjutan juga berpotensi menjalar ke sektor elektronik dan otomotif yang banyak menggunakan komponen berbasis plastik. Sementara itu, industri semen juga mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan di tengah permintaan yang melemah.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan pelaku industri dituntut untuk menjaga stabilitas produksi serta mencegah dampak sosial berupa peningkatan pengangguran di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
(*)
