Gula Rafinasi Bocor ke Pasar Tradisional, Pemerintah Bakal Tindak Tegas

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono
banner 120x600
banner 468x60

ANALITIKNEWS.COM – Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menggelar rapat koordinasi tingkat menteri untuk membahas isu kebocoran distribusi gula kristal rafinasi (GKR) yang kini ditemukan beredar di pasar tradisional.

Gula yang sejatinya hanya diperuntukkan untuk industri makanan dan minuman itu, kini diketahui sudah mencapai pasar eceran, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga dan pasokan.

banner 325x300

Rapat yang berlangsung di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Kamis (11/9), dihadiri oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Mereka membahas langkah-langkah yang harus diambil untuk menangani masalah kebocoran distribusi ini secara menyeluruh.

Usai rapat, Sudaryono mengatakan pemerintah telah mengetahui terjadi kebocoran gula rafinasi ke pasar tradisional. Gula rafinasi ini seharusnya untuk kebutuhan industri, bukan konsumsi masyarakat.

“Tadi juga menjadi salah satu concern kita adalah terkait gula industri yang leaking atau bocor ke pasar tradisional. Ditemukan di banyak pasar bagaimana gula rafinasi itu kan dia kebutuhannya untuk kebutuhan industri saja, makanan dan minuman dan seterusnya ya. Itu kan nggak boleh dijual kiloan kepada masyarakat,” kata Sudaryono.

Melihat hal tersebut, pemerintah berkomitmen untuk menindak tegas oknum yang sengaja menjual gula rafinasi ke pasar. Sayangnya, Sudaryono tidak mengatakan berapa jumlah gula rafinasi yang bocor ke pasar.

“Kita ingin ini ditindak tegas, ditindak tegas baik itu dari sisi pedagangnya maupun perusahaan yang mengimpor itu. Yang jelas, yang jelas di blacklist, ya kalau ada melanggar hukum, harus ada pidana. Ada Satgas Pangan kita libatkan semua,” tuturnya.

Adapun salah satu penyebab bocornya gula rafinasi ke pasar tradisional karena harganya lebih murah dibandingkan gula konsumsi dari petani tebu. Kebocoran ini pun yang menyebabkan sebanyak 100 ribu ton gula petani numpuk atau tidak terserap oleh pasar.

“Efeknya adalah gula konsumsi yang diproduksi dari petani yang digiling di pabrik gula, itu serapannya rendah, 100 ribu ton macet, sehingga kan itu merugikan ya, merugikan petani. Ini kenapa? Karena gula rafinasi itu harganya jauh lebih murah daripada gula konsumsi,” tuturnya.

(*)

1.003 Tayangan
banner 325x300