ANALITIKNEWS.COM – DPRD Kota Samarinda mendorong seluruh rumah sakit memperkuat komunikasi dengan pasien dan keluarga, terutama ketika kapasitas ruang perawatan penuh.
Rumah sakit dinilai tidak cukup hanya memberikan pelayanan medis, tetapi juga harus memastikan pasien memperoleh informasi yang jelas selama menjalani proses pelayanan.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menegaskan petugas rumah sakit harus aktif menjelaskan kondisi pelayanan kepada pasien dan keluarga.
Menurutnya, informasi mengenai ketersediaan kamar, proses penanganan, hingga perkiraan waktu tunggu menjadi bagian penting dalam memberikan kepastian kepada masyarakat.
“Seharusnya pasien diberi penjelasan, Bapak, kemungkinan waktu tunggunya sekian,” ujarnya.
Pasien Berhak Mendapat Kepastian
Anhar menilai pasien dan keluarga tidak seharusnya menunggu berjam-jam tanpa mengetahui perkembangan penanganan.
Ketika ruang perawatan belum tersedia, pihak rumah sakit harus segera menjelaskan kondisi tersebut sekaligus menyampaikan langkah yang sedang dilakukan.
Ia juga menanggapi informasi mengenai kasus pelayanan kesehatan yang belakangan ramai di media sosial. Dalam informasi yang beredar, seorang pasien disebut menunggu sekitar delapan jam untuk memperoleh ruang perawatan dan kemudian dikabarkan meninggal dunia.
Anhar menegaskan pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab meninggalnya pasien tersebut. Namun, kasus itu harus menjadi perhatian bagi fasilitas kesehatan agar mampu membangun pola komunikasi yang lebih baik.
“Saya tidak tahu meninggalnya kenapa, tapi maksudnya begini, kita pihak rumah sakit menjelaskan dulu,” katanya.
Rumah Sakit Perlu Punya Mekanisme Saat Kamar Penuh
Menurut Anhar, persoalan antrean ruang perawatan tidak bisa hanya dilihat dari jumlah tempat tidur yang tersedia. Rumah sakit juga perlu menyiapkan mekanisme yang jelas untuk menangani pasien ketika seluruh ruang perawatan dalam kondisi penuh.
Petugas, kata dia, harus memberikan informasi secara berkala tanpa menunggu keluarga terus-menerus bertanya.
Langkah tersebut penting agar pasien dan keluarga memahami situasi serta dapat mempertimbangkan pilihan pelayanan yang tersedia.
“Jika memang ruang perawatan penuh, sampaikan bahwa kondisinya penuh. Kalau masih harus menunggu, jelaskan juga perkiraan waktunya. Jangan sampai pasien dibiarkan menunggu tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan,” tandasnya.
Anhar menegaskan pihak rumah sakit harus memastikan pasien tetap mendapatkan perhatian dan informasi, meskipun ruang perawatan belum tersedia.
“Jangan sampai orang didiamkan tapi enggak ada kejelasan, sekian jam. Ini yang akhirnya orang bingung mau melapor ke mana,” pungkasnya.
(ADV)
