ANALITIKNEWS.COM – Ketua Umum Paguyuban Pedagang Warteg dan Kaki lima Jakarta dan Sekitarnya (Pandawakarta), Puji Hartoyo mengemukakan pendapatnya soal program makan siang gratis.
Diketahui, program makan siang gratis yang belakangan ini berubah diksinya menjadi makan bergizi gratis merupakan program Presiden Terpilih Prabowo Subianto pada masa kampanye Pemilihan Presiden 2024 lalu.
Program itu belakangan ini, bukan hanya diksinya yang berubah, namun juga biaya untuk program ini pun dikabarkan ikut berubah.
Hal tersebut terungkap dari pernyataan Ekonom Heriyanto Irawan, pasca-klaim dirinya diajak bicara oleh tim sinkronisasi Prabowo-Gibran, bahwa opsi untuk biaya makan bergizi gratis antara ke Rp 9.000 atau ke Rp 7.500 per porsi.
Pernyataan tersebut disampaikan Heriyanto Irawan saat mengulas tentang Market outlook 2024 yang disiarkan lewat kanal YouTube pada 16 Juli 2024.
Pernyataan Heriyanto Irawan itu pun diperkuat oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, Muhadjir Effendi yang mengatakan bahwa biaya dengan angka Rp 7.500 per porsi terbilang sudah cukup.
Tapi belakangan pernyataan kedua orang tersebut dibantah Calon Wakil Presiden Terpilih Gibran Rakabuming Raka.
Dalam sesi wawancara disebuah stasiun televisi swasta nasional Gibran membantah rumor yang mengatakan alokasi Rp 7.500 per anak untuk program makan bergizi gratis.
Gibran menjelaskan saat ini tim masih mengkaji dan menguji coba pelaksanaan program itu dengan biaya Rp 15 ribu per orang.
Seperti yang kita ketahui, program makan bergizi gratis muncul dan terus bergulir saat Prabowo dalam debat kelima Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 4 Februari 2024 lalu.
Saat itu, Ketua Umum Partai Gerindra mengatakan akan ada program makan siang gratis.
Menurutnya, kebijakan ini mampu mengatasi angka kematian ibu hamil, anak kurang gizi, stunting, dan sebagainya.
Dengan muara tujuannya adalah mengatasi masalah dalam perbaikan kualitas hidup rakyat Indonesia.
Mengutip dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, program makan bergizi gratis Prabowo diperuntukkan bagi siswa sekolah, santri di pesantren, ibu hamil, dan anak balita.
Berdasarkan pengelompokan tersebut, maka jumlah orang yang akan mendapatkan makan siang dan susu gratis sebagai berikut; Pra-Sekolah Dasar (anak usia dini): 30 juta anak, Sekolah Dasar (SD): 24 juta anak. Sekolah Menengah Pertama (SMP): 9, 8 juta anak. Sekolah Menengah Atas (SMA) dan SMK: 10, 2 juta anak, pesantren: 4, 3 juta santri, Ibu hamil: 4, 4 juta orang.
Sehingga jumlah orang yang akan dapat makan bergizi dan bantuan gizi gratis sebanyak 82, 9 juta orang.
Dengan total angka sebanyak ini, jika asumsi perporsi makan siang bergizi gratis adalah Rp 15.000 maka diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp 300 triliun per tahunnya.
Pendapat Puji Hartoyo
Menurut pengamatan Puji Hartoyo di grassroot, masyarakat Indonesia tidak terlalu memusingkan besaran biaya makan bergizi gratis Prabowo-Gibran.
Sepanjang itu dapat direalisasikan dan sustainable maka rakyat akan merasakan dampak positifnya.
Pemenuhan gizi bagi anak Indonesia adalah sebuah keniscayaan.
Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Mengutip temuan dari Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tahun 2023, sekitar 65 persen anak sekolah di Indonesia tidak sarapan.
Selain itu, ditemukan pula bahwa angka gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak (stunting) di Indonesia masih tinggi atau sekitar di angka 21,5 persen hanya turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara target di tahun 2024 ini turun menjadi 14 persen.
Tak cukup disitu, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bank Dunia pada tahun 2018, bahwa sebanyak 55 persen anak usia sekolah di Indonesia tidak memahami dengan apa yang dibaca.
Melihat fakta ini, tentu rasanya apa yang menjadi program Prabowo-Gibran sangat relevan dengan makan siang bergizi gratisnya.
Apalagi tugas mencerdaskan anak bangsa oleh negara adalah sebuah kewajiban. (*)









