Jorge Martín Keluhkan Panas Ekstrem Assen, Usulkan Pengurangan Lap MotoGP Belanda 2026

Jorge Martín
Jorge Martín

ANALIITIKNEWS.COM – Sesi Practice MotoGP Belanda 2026 di TT Circuit Assen berlangsung dalam kondisi cuaca yang ekstrem pada Jumat (26/6/2026). Suhu udara tercatat mencapai 36 derajat Celsius dengan kelembapan sekitar 40 persen, membuat para pembalap kesulitan menjaga konsistensi fisik maupun performa di lintasan.

Kondisi ini langsung menjadi sorotan pembalap Jorge Martín yang menilai panas di Assen terasa lebih menyengat dibanding beberapa seri balapan paling berat sebelumnya di kalender MotoGP.

Martin Bandingkan dengan MotoGP India 2023

Martín secara terbuka membandingkan kondisi di Assen dengan MotoGP India 2023, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu balapan paling melelahkan dalam kariernya. Saat itu, ia finis di posisi kedua setelah bertarung ketat dengan Fabio Quartararo, sebelum akhirnya pingsan akibat kelelahan usai balapan.

Dalam data resmi, suhu udara saat MotoGP India 2023 mencapai 33 derajat Celsius dengan kelembapan 65 persen. Namun, menurut Martín, kondisi di Assen terasa lebih berat meski tingkat kelembapan lebih rendah.

“Sejujurnya, saya tidak ingat pernah merasakan cuaca sepanas ini saat mengendarai motor MotoGP,” kata Martín seperti dilansir Crash.net.

Kondisi Lebih Berat dari Asia Tenggara

Menariknya, Martín justru mengaku lebih nyaman membalap di negara dengan iklim lembap tinggi seperti Thailand dan Malaysia. Ia menilai kombinasi panas dan karakter lintasan di Assen memberikan tekanan fisik yang berbeda dan lebih menyiksa.

“Di Assen saya benar-benar merasa seperti terbakar. Wajah dan seluruh tubuh saya terasa panas. Karena itu saya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, mulai dari makanan, pemulihan, hingga tidur yang cukup. Saya tahu kami harus benar-benar memulihkan kondisi setelah hari seberat ini,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengalaman di Assen kali ini terasa sangat ekstrem bahkan jika dibandingkan dengan balapan-balapan berat sebelumnya.

“Saya bahkan merasa jauh lebih baik saat balapan di Thailand atau Malaysia meski kelembapannya lebih tinggi dibanding di sini,” lanjutnya.

Dampak ke Performa Balapan

Menurut Martín, suhu tinggi tidak hanya memengaruhi kondisi fisik pembalap, tetapi juga menurunkan performa motor secara signifikan. Ia menjelaskan bahwa catatan waktu para pembalap bisa melambat hingga sekitar 1,5 detik per lap dibanding sesi pagi.

“Kalau melihat catatan waktu, kecepatan kami sekitar satu setengah detik lebih lambat dibanding pagi hari. Memang saat memakai ban lunak kami masih bisa mencetak satu putaran cepat, tetapi untuk pace balapan kami jauh lebih lambat.”

Ia juga menggambarkan bahwa motor terasa kehilangan performa setelah beberapa lap berjalan.

“Rasanya seperti motornya tidak bekerja dengan baik, mesinnya juga tidak maksimal. Tubuh juga mulai kehilangan tenaga setelah dua atau tiga lap berturut-turut. Kondisinya benar-benar sangat berat,” ucap Martín.

Usulan Pengurangan Lap Demi Keselamatan

Melihat kondisi tersebut, Martín mengusulkan agar MotoGP mempertimbangkan pengurangan jumlah lap apabila suhu ekstrem tetap terjadi pada hari balapan di Assen. Ia menegaskan bahwa keselamatan pembalap harus menjadi prioritas utama dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

Menurutnya, keputusan teknis seperti jarak balapan perlu fleksibel ketika faktor keselamatan terancam, terutama pada sirkuit cepat seperti Assen yang menuntut fisik dan konsentrasi tinggi sepanjang lomba.

Dengan situasi cuaca yang belum stabil, pernyataan Martín membuka kembali diskusi mengenai batas toleransi cuaca ekstrem dalam kalender MotoGP modern, sekaligus menegaskan betapa beratnya tantangan fisik yang dihadapi para pembalap di era saat ini.

(*)