Daerah  

Jawab Soal Keluhan Air Bersih, Ketua Dewas Perumdam Tirta Kencana Ungkap Penyebabnya

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Samarinda sekaligus Ketua Dewan Pengawas Perumdam Tirta Kencana, Marnabas Patiroy
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Samarinda sekaligus Ketua Dewan Pengawas Perumdam Tirta Kencana, Marnabas Patiroy
banner 120x600
banner 468x60

ANALITIKNEWS.COM  – Kualitas air bersih dari Perumda Tirta Kencana Samarinda dikeluhkan masyarakat khususnya di wilayah Bengkuring, Kecamatan Sempaja.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Samarinda sekaligus Ketua Dewan Pengawas Perumdam Tirta Kencana, Marnabas Patiroy mengungkap penyebab utamanya.

banner 325x300

Menurutnya, persoalan tersebut dipicu oleh perbedaan karakteristik air baku serta kondisi pipa distribusi yang telah digunakan dalam jangka waktu lama.

Marnabas menjelaskan, keluhan air berwarna keruh hingga kehitaman yang kerap terjadi di Bengkuring bukanlah persoalan baru. Masalah ini muncul akibat endapan yang menumpuk di dalam pipa distribusi seiring usia pemakaian.

“Keluhan air di Bengkuring itu karena air bakunya memang berbeda. Kalau kita lihat, sudah terjadi endapan di dalam pipanya sampai menghitam,” ujar Marnabas, Rabu (04/02/2026).

Ia mengatakan, pipa distribusi air yang telah digunakan selama puluhan tahun mengalami penyempitan akibat endapan tersebut. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas air yang mengalir ke rumah-rumah warga, sekaligus menurunkan tekanan air.

“Pembersihan pipa itu berbeda dengan pembersihan Instalasi Pengolahan Air (IPA). Pipa semakin lama semakin mengecil karena endapan, sehingga dorongan air juga menjadi kecil,” jelasnya.

Dalam upaya mengatasi persoalan teknis tersebut, Perumdam Tirta Kencana menggunakan jasa pihak ketiga untuk melakukan pembersihan pipa secara menyeluruh. Langkah ini dinilai perlu karena proses pembersihan membutuhkan peralatan khusus dan penanganan yang tidak sederhana.

“Kami menggunakan pihak ketiga untuk membersihkan pipa-pipa itu, karena memang perlu penanganan khusus,” kata Marnabas.

Selain pembersihan teknis, Pemerintah Kota Samarinda bersama PDAM juga telah memberikan sejumlah instruksi kepada jajaran terkait. Salah satunya adalah melakukan sosialisasi kepada warga melalui ketua RT agar air hasil pembersihan pipa tidak langsung ditampung ke dalam bak penampungan rumah.

“Kami sudah sampaikan lewat RT-RT kepada warga, kalau ada pembersihan pipa, airnya jangan langsung ditampung. Buang dulu sampai bersih,” ujarnya.

Kendala Sosialisasi

Namun demikian, Marnabas mengakui bahwa metode tersebut belum sepenuhnya efektif. Masih ada warga yang tidak mengetahui jadwal pembersihan atau lupa, sehingga air kotor tetap tertampung dan menimbulkan keluhan baru.

Untuk itu, ia meminta PDAM mengambil langkah yang lebih proaktif. Salah satunya dengan membuka meteran atau jalur pembuangan air secara langsung saat proses pembersihan berlangsung, agar air kotor tidak masuk ke bak penampungan warga.

“Saya sudah minta ke PDAM, kalau ada pembersihan, buka saja kilometernya supaya air kotor langsung terbuang keluar, tidak masuk ke bak warga,” tegasnya.

Lebih lanjut, Pemkot Samarinda juga akan menerapkan metode “wash out” dengan memotong ujung pipa distribusi sebagai saluran pembuangan sementara. Dengan cara ini, air kotor hasil pembersihan dapat terbuang secara maksimal tanpa bergantung pada partisipasi warga.

“Di ujung pipa akan kita potong untuk pembuangan air. Jadi air kotor akan terbuang sendiri secara maksimal,” jelas Marnabas.

Selain langkah teknis jangka pendek, Marnabas memaparkan bahwa pemerintah kota telah menyusun rencana penanganan persoalan air bersih dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah penanganan jangka pendek, di mana PDAM diminta lebih aktif turun ke lapangan, mendatangi warga, dan melakukan pembersihan terjadwal tanpa menunggu keluhan masyarakat.

Tahap kedua adalah penanganan jangka menengah melalui penggantian pipa-pipa tua secara bertahap. Saat ini, panjang jaringan pipa distribusi di wilayah terdampak mencapai sekitar 30 kilometer dengan usia rata-rata mencapai 30 tahun.

“Rencananya setiap tahun kita ganti secara bertahap, misalnya lima kilometer per tahun. Jadi dalam enam tahun bisa selesai semua,” ungkapnya.

Tahap Jangka Panjang

Menurut Marnabas, penggantian pipa ini penting untuk mencegah kembali terjadinya endapan dalam jangka panjang. Namun, ia menegaskan bahwa penggantian pipa saja tidak akan cukup jika persoalan air baku tidak ditangani secara serius.

“Kalau pipanya diganti tapi air bakunya tetap sama, 30 tahun lagi akan mengendap lagi,” katanya.

Oleh karena itu, dalam tahap jangka panjang, Pemerintah Kota Samarinda berencana membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru di kawasan atas Loa Kulu. Pembangunan IPA ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas air baku sekaligus mengantisipasi dampak kemarau panjang.

“Solusinya adalah membangun IPA baru di wilayah atas. Ini juga untuk mencegah intrusi air laut, sehingga operasional tetap berjalan optimal,” tegas Marnabas.

Ia menambahkan, seluruh langkah tersebut sejalan dengan tiga pesan utama Wali Kota Samarinda yang menjadi komitmen pemerintah daerah. Pertama, pada tahun 2029 seluruh masyarakat Samarinda harus sudah terlayani air bersih. Kedua, kualitas air harus terus ditingkatkan. Ketiga, ketersediaan air bersih selama 24 jam harus dijaga.

Marnabas menegaskan, persoalan air bersih tidak cukup hanya dibahas dalam rapat atau wacana semata. Menurutnya, yang paling penting adalah tindakan nyata di lapangan.

“Intinya jangan hanya bicara soal pipa tua. Harus ada tindakan nyata. Saya putuskan, saat pembersihan potong pipa di ujung untuk wash out, bukan membuka meteran warga, dan jadwalkan setiap minggunya agar pelayanan bisa maksimal,” pungkasnya.

Dengan langkah-langkah tersebut, Pemerintah Kota Samarinda berharap kualitas layanan air bersih, khususnya di wilayah Bengkuring dan sekitarnya, dapat terus membaik secara berkelanjutan.

(*)

banner 325x300