DPRD Samarinda Dorong Transformasi Plaza 21 Jadi Solusi Parkir Citra Niaga

Gedung Plaza 21 yang berpotensi jadi kantong parkir di Citra Niaga
Gedung Plaza 21 yang berpotensi jadi kantong parkir di Citra Niaga

ANALITIKNEWS.COM – Persoalan parkir di kawasan Citra Niaga bukan sekadar tentang di mana kendaraan harus berhenti.

Di balik padatnya kendaraan yang memenuhi badan jalan, terdapat kebutuhan yang lebih besar: bagaimana kawasan perdagangan tersebut dapat terus berkembang tanpa mengorbankan kenyamanan dan kelancaran mobilitas masyarakat.

Dari persoalan itulah muncul gagasan untuk membangun sistem parkir yang lebih terpusat.

Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Jasno, melihat Plaza 21 sebagai salah satu aset yang potensial diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Bangunan yang berada di kawasan Citra Niaga itu dinilai dapat dikaji untuk dikembangkan menjadi fasilitas parkir bertingkat.

Gagasannya sederhana, tetapi memiliki dampak yang cukup luas. Kendaraan yang datang ke Citra Niaga tidak lagi dibiarkan memenuhi sisi-sisi jalan, melainkan diarahkan menuju satu kawasan parkir yang disiapkan secara khusus.

“Plaza 21 menurut saya punya potensi untuk kita kembangkan menjadi kantong parkir terpusat di kawasan Citra Niaga,” kata Jasno.

Menurutnya, pola tersebut dapat menjadi bagian dari penataan kawasan secara menyeluruh. Ketika kendaraan memiliki tempat parkir yang jelas, badan jalan dapat kembali difungsikan untuk pergerakan lalu lintas.

Konsep semacam ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Penataan kawasan Malioboro di Yogyakarta, misalnya, dapat menjadi salah satu referensi bagaimana kendaraan diarahkan ke lokasi parkir tertentu sehingga kawasan utama menjadi lebih tertata.

Pola itu yang dinilai Jasno layak dipelajari untuk diterapkan di Citra Niaga, tentunya dengan menyesuaikan karakter dan kebutuhan Samarinda.

“Kendaraan yang masuk ke Citra Niaga nantinya bisa diarahkan ke satu lokasi parkir. Dengan begitu, tidak lagi terjadi parkir kendaraan yang memanjang di badan jalan,” ujarnya.

Dari Persoalan Parkir Menjadi Penataan Kawasan

Selama ini, persoalan parkir kerap dipandang sebagai persoalan teknis sehari-hari. Padahal, bagi kawasan perdagangan, sistem parkir memiliki kaitan erat dengan wajah kawasan dan kenyamanan masyarakat.

Kendaraan yang parkir di badan jalan mengambil sebagian ruang yang seharusnya digunakan untuk lalu lintas. Ketika jumlahnya terus bertambah, ruang gerak kendaraan menjadi semakin terbatas.

Di sisi lain, masyarakat yang datang untuk berbelanja, bekerja maupun melakukan aktivitas lainnya membutuhkan akses yang mudah dan nyaman.

Karena itu, kehadiran kantong parkir terpusat dapat menjadi salah satu instrumen untuk menciptakan keseimbangan antara kebutuhan kendaraan dan kebutuhan ruang publik.

Citra Niaga tidak hanya membutuhkan tempat untuk menampung kendaraan, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu mengatur bagaimana kendaraan masuk, parkir dan kembali keluar dari kawasan.

Di sinilah konsep parkir bertingkat menjadi relevan untuk dikaji.

Dengan keterbatasan lahan di kawasan perkotaan, pembangunan secara vertikal memungkinkan kapasitas parkir ditambah tanpa harus terus mengambil ruang di badan jalan.

Plaza 21 Harus Dikaji Secara Matang

Meski demikian, gagasan tersebut tidak berarti Plaza 21 dapat langsung dialihfungsikan begitu saja.

Jasno menegaskan, kondisi bangunan harus menjadi pertimbangan utama sebelum keputusan diambil. Pemerintah perlu memastikan kemampuan struktur bangunan untuk menerima beban kendaraan dan aktivitas parkir bertingkat.

Apabila struktur bangunan masih memungkinkan, Plaza 21 dapat dipertimbangkan untuk melalui proses redesain dan penyesuaian fungsi.

Sebaliknya, jika hasil kajian menunjukkan struktur bangunan tidak memenuhi persyaratan, pembangunan kembali dengan konsep gedung parkir sejak awal dapat menjadi pilihan.

“Tentu harus dilihat dulu kekuatan bangunannya. Kalau secara struktur tidak memungkinkan, pilihan lainnya adalah dibongkar dan didesain kembali khusus sebagai kantong parkir,” tandasnya.

Artinya, yang menjadi tujuan bukan semata-mata mempertahankan bangunan lama, melainkan memastikan tersedianya fasilitas parkir yang aman dan sesuai dengan kebutuhan kawasan.

Kajian juga perlu memperhitungkan berbagai aspek lain, mulai dari kapasitas kendaraan, akses keluar-masuk, sirkulasi antarlantai, hingga sistem keselamatan.

Membuka Ruang untuk Citra Niaga yang Lebih Nyaman

Jika konsep parkir terpusat dapat diwujudkan dengan perencanaan yang tepat, dampaknya berpotensi melampaui persoalan parkir.

Ruang jalan yang selama ini digunakan untuk kendaraan terparkir dapat dikembalikan kepada fungsi utamanya. Arus kendaraan menjadi lebih leluasa, sementara pengunjung memiliki lokasi parkir yang lebih jelas.

Pada saat yang sama, penataan tersebut dapat mendukung aktivitas ekonomi di kawasan Citra Niaga.

Kawasan perdagangan yang tertib dan mudah diakses tentu memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat. Pengunjung tidak perlu berulang kali mencari celah parkir di sepanjang jalan, sementara pelaku usaha mendapatkan lingkungan perdagangan yang lebih teratur.

Konsep parkir bertingkat juga dapat mengakomodasi kendaraan roda dua maupun roda empat dalam satu sistem.

“Baik itu nanti parkir roda empat maupun roda dua, tapi bertingkat,” ujar Jasno.

(adv)