Danantara Siapkan Investasi Rp101 Triliun untuk BUMN Tekstil

CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani
banner 120x600
banner 468x60

ANALITIKNEWS.COM – CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, akhirnya buka suara mengenai rencana pemerintah membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang bergerak di sektor tekstil.

Rosan menegaskan bahwa pihaknya siap melakukan kajian mendalam sebelum menyalurkan investasi besar yang mencapai US$6 miliar atau sekitar Rp101,17 triliun dengan asumsi kurs Rp16.863 per dolar AS.

banner 325x300

Langkah ini muncul di tengah kabar bahwa pendirian BUMN tekstil baru akan menjadi bagian dari restrukturisasi perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman (Sritex) yang saat ini berstatus pailit.

Namun, Rosan menolak memberikan konfirmasi langsung terkait isu tersebut. Ia menekankan bahwa fokus utama Danantara adalah memastikan setiap investasi memiliki dasar kajian kelayakan yang kuat.

“Selama kita yakin bahwa nanti kita bisa turn around perusahaan itu melakukan restrukturisasi secara maksimal. Seperti yang kita lakukan misalnya di perusahaan-perusahaan BUMN lainnya yang memang perlu mendapatkan penyehatan secara keseluruhan. Tidak hanya dari permodalan saja tapi juga dari market-nya, dari off-takernya dan lain-lain. Jadi, kita terbuka untuk itu,” kata Rosan saat ditemui di kantor Kementerian Investasi, Jakarta Selatan, Kamis (15/1).

Rosan menegaskan bahwa Danantara tidak pernah gegabah dalam mengambil keputusan investasi. Ia menjelaskan bahwa feasibility study selalu menjadi dasar utama sebelum perusahaan menyalurkan modal.

Kajian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kondisi pasar, rantai pasok, hingga potensi keuntungan.

Rosan juga belum bisa memastikan bentuk dari BUMN tekstil tersebut. Danantara, sambungnya, selalu melakukan kajian kelayakan (feasibility study) sebelum berinvestasi, yang mencakup berbagai aspek.

Pihaknya juga punya beberapa parameter tertentu yang harus dipenuhi, termasuk target keuntungan (return),” tulisnya.

Pertimbangan Lapangan Kerja

Meski begitu, Rosan menekankan bahwa keuntungan finansial bukan satu-satunya parameter yang menjadi pertimbangan. Ia menilai sektor tekstil memiliki keunggulan besar dalam hal penciptaan lapangan kerja.

Oleh karena itu, Danantara membuka kemungkinan menerima tingkat keuntungan yang lebih rendah apabila investasi tersebut mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Termasuk juga parameter yang kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan. Mungkin ya we are willing, kita terbuka untuk menerima misalnya investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi. Mungkin tekstil kan salah satu yang dari segi lapangan pekerjaan itu sangat besar,” ujar Rosan.

Pernyataan Rosan mencerminkan strategi Danantara yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga pada dampak sosial-ekonomi yang lebih luas.

Dengan investasi sebesar Rp101 triliun, BUMN tekstil baru diharapkan mampu menjadi motor penggerak industri padat karya yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Selain itu, langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat sektor manufaktur nasional.

Industri tekstil Indonesia selama beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan berat akibat persaingan global dan masuknya produk impor murah. Kehadiran BUMN tekstil diharapkan mampu memberikan stabilitas, memperkuat rantai pasok domestik, serta membuka peluang ekspor baru.

(*)

banner 325x300