Berita  

MAN 2 Samarinda Perkuat Gerakan Anti Bullying dan Radikalisme Lewat Edukasi Siswa

Upaya mencegah perundungan (bullying) dan menangkal masuknya paham radikal kembali menjadi perhatian di MAN 2 Samarinda
Sosialisasi yang Digelar di Aula MAN 2 Samarinda oleh Pihak Sekolah Bersama Kesbangpol Kaltim.
banner 120x600
banner 468x60

ANALITIKNEWS.COM  — Upaya mencegah perundungan (bullying) dan menangkal masuknya paham radikal kembali menjadi perhatian di lingkungan pelajar. Di MAN 2 Samarinda, Kamis (20/11/2025), ratusan siswa berkumpul di aula sekolah dalam sebuah kegiatan yang tak terbungkus seremonial formal, namun justru terasa dekat dengan keseharian mereka sebagai remaja.

Kegiatan yang difasilitasi pihak sekolah bersama Badan Kesbangpol Kaltim ini mengajak siswa memahami arti keamanan psikologis, menghargai perbedaan, serta mengenali potensi masuknya paham radikal yang kerap menyasar kelompok rentan. Di sekolah yang terletak di Jalan Harmonika, Sungai Pinang Luar itu, atmosfer diskusi terlihat cair. Siswa—dengan gaya khas anak muda—bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman.

banner 325x300

Di antara peserta, terlihat Aliya Febyati, siswi kelas 10-2, yang tampak antusias mengikuti jalannya sesi. Ia mengaku kegiatan ini membuka pandangannya soal batasan perilaku dan pentingnya saling menjaga satu sama lain.

“Karena ada agenda ini kami bisa belajar tentang bullying. Kami jadi tahu kalau bullying tidak boleh. Kami bisa saling berpendapat dan saling kasih tahu mana yang baik dan buruk, baik di sekolah maupun di luar,” ujarnya.

Langkah Mencegah Bullying di MAN 2

Aliya bercerita, selama menjadi siswa di MAN 2 Samarinda, ia belum pernah menjumpai kasus perundungan serius. Meski begitu, ia merasa tetap butuh kewaspadaan. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti menyapa teman di kantin atau ketika berpapasan di koridor sudah menjadi langkah kecil yang mencegah munculnya jarak sosial.

“Kalau ketemu, kami biasa saling sapa. Kalau ada yang bandel atau tidak mau mendengarkan, kami bisa lapor ke guru BK atau wali kelas,” tuturnya. Ia percaya kebiasaan saling mengingatkan, meski tampak sepele, bisa menjaga iklim sekolah tetap sehat.

Dari sisi pemerintah daerah, perhatian terhadap bullying bukan hanya soal kenyamanan siswa, tetapi juga menyangkut risiko yang lebih besar. Kabid Politik Dalam Negeri Kesbangpol Kaltim, Fatmawati, yang menjadi narasumber pada kegiatan tersebut, menegaskan bahwa korban bullying sering menjadi sasaran empuk kelompok penyebar paham radikal.

“Bullying itu biasanya dilakukan oleh oknum yang melihat anak lain lebih lemah. Anak yang dibully cenderung menutup diri dan kurang bersosialisasi. Itu situasi yang mudah dimanfaatkan kelompok yang membawa paham radikal,” kata Fatmawati di hadapan para siswa.

Menurutnya, radikalisme kerap tumbuh dari rasa tidak diterima. Anak yang merasa terpinggirkan akan mencari ruang yang menerima mereka, dan di situlah bibit pengaruh negatif bisa masuk tanpa kita sadari. Karena itu, pencegahan bullying juga berarti memperkuat ketahanan mental siswa.

“Kalau anak-anak diberi pemahaman, mereka akan tahu hak dan kewajibannya terhadap negara, tidak mudah terpengaruh, dan bisa tumbuh sebagai generasi yang kuat,” katanya lagi.

Pencegahan Radikalisme

Fatmawati menekankan bahwa pencegahan radikalisme tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus berjalan seiring dengan upaya membangun lingkungan belajar yang inklusif dan penuh empati. Sekolah, menurutnya, memiliki peran strategis membangun ruang pergaulan aman bagi remaja.

Fenomena perundungan bukan hanya persoalan di ruang kelas. Ia juga dapat muncul di lingkungan masyarakat, terlebih di media sosial yang kini menjadi perpanjangan interaksi remaja sehari-hari. Karena itu, edukasi terkait bullying harus berlangsung lintas ruang dan generasi.

Guru-guru MAN 2 Samarinda memahami hal itu. Mereka berharap siswa tidak hanya mampu mengenali tindakan perundungan, tetapi juga berani bersuara ketika melihatnya. Kesadaran kolektif untuk menolak perilaku itu  lebih efektif daripada hanya mengandalkan teguran guru atau perangkat sekolah.

Pihak sekolah juga menilai bahwa edukasi seperti ini harus berkelanjutan. Dunia digital yang semakin cepat membuat siswa mudah terpapar berbagai konten, termasuk narasi ekstrem dengan pendekatan halus. Tanpa pendampingan, remaja bisa terjebak tanpa sadar.

MAN 2 Samarinda menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar program tahunan, tetapi bagian dari komitmen membentuk karakter pelajar yang berani bersikap. Kepala sekolah dan para guru berharap siswa mampu saling menjaga, menolak perundungan dalam bentuk apa pun, serta tidak mudah terpengaruh ideologi radikal yang merusak masa depan mereka.

Edukasi ini menjadi harapan mampu mendorong para siswa menjadi agen pencegahan di lingkungan masing-masing. Dengan pemahaman yang lebih utuh, mereka tidak hanya mampu menolong diri sendiri, tetapi juga teman-teman yang membutuhkan dukungan.

Ketika kegiatan berakhir, beberapa siswa masih terlihat berdiskusi dalam kelompok kecil. Ada yang membahas pengalaman pribadi, ada pula yang membicarakan bagaimana mereka bisa mulai membangun budaya saling menghargai di antara sesama.

Dari sekolah di kawasan Sungai Pinang Luar itu, sebuah pesan penting mengalir: menciptakan lingkungan belajar yang aman adalah tanggung jawab bersama — dan mulai dari keberanian untuk melawan perundungan serta menjaga diri dari pengaruh radikal.

1.070 Tayangan
banner 325x300