ANALITIKNEWS.COM – Pemerintah tidak ingin lonjakan harga minyak dunia langsung membebani masyarakat. Di tengah harga minyak mentah yang kembali menembus US$100 per barel, pemerintah memilih memperbesar anggaran subsidi untuk mempertahankan harga Pertalite dan Solar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih mempertahankan harga BBM subsidi. Pemerintah mengambil keputusan tersebut meski harga minyak dunia terus bergerak naik.
“Pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan,” ujar Bahlil ditemui di kantornya, Jumat (11/9).
Mengutip Reuters, Jumat (11/9), harga minyak Brent naik US$1,05 atau 1 persen menjadi US$108,68 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 95 sen atau 1 persen menjadi US$103,45 per barel.
Subsidi Jadi Pilihan Pemerintah
Bahlil mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk merespons perubahan harga minyak dunia. Pemerintah menilai penambahan anggaran subsidi menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan menaikkan harga BBM.
“Menambah anggaran subsidi, saya pikir itu bagian daripada langkah yang kita lakukan,” imbuhnya.
Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat. Bahlil menyebut Presiden Prabowo Subianto mengarahkan pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
“Bapak Presiden Prabowo berpendangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting sekalipun dengan berbagai macam hal-hal yang harus kita lakukan,” jelasnya.
Rata-rata Harga Minyak Masih Terkendali
Meski harga minyak saat ini sudah berada di atas US$100 per barel, Bahlil menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan subsidi. Ia merujuk pada rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) sejak awal tahun yang masih berada di bawah US$100 per barel.
“Tapi sekarang rata-rata ICP sekalipun sekarang sudah menjadi US$106 sampai US$108 dolar per barrel, tapi rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan September sekarang itu kurang lebih di angka sekitar US$85 sampai US$90. Jadi, overall masih oke,” pungkasnya.
(*)
