ANALITIKNEWS.COM – Kemarau panjang mulai memengaruhi ketersediaan air bersih di Kota Samarinda. Wali Kota Samarinda Andi Harun meminta masyarakat mengurangi penggunaan air secara berlebihan menyusul penyusutan debit Sungai Mahakam dan kenaikan kadar klorida.
Kondisi tersebut turut memengaruhi operasional sejumlah fasilitas penyadapan atau intake air bersih di wilayah Palaran, Pulau Atas, Bukuan, dan Bantuas.
Andi Harun mengatakan penurunan debit Sungai Mahakam bukan satu-satunya persoalan. Kenaikan kadar klorida juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan kualitas air yang pemerintah distribusikan kepada masyarakat.
“Kalau kadar klorida sudah melewati batas 250 ppm, operasional harus dihentikan karena ini menyangkut standar kesehatan air bersih,” kata Andi Harun di Samarinda, Sabtu, usai mengikuti Shalat Istisqa yang digelar Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN).
Menurut Andi, kondisi Sungai Mahakam masih berubah mengikuti pasang surut. Karena itu, masyarakat tidak perlu panik.
Meski begitu, ia meminta warga tetap waspada dan menggunakan air secara bijak.
“Pemkot Samarinda terus memantau situasi agar pelayanan air bersih tetap berjalan dan penghentian operasional intake tidak berlangsung lama,” ujarnya.
Samarinda Tetapkan Darurat Kekeringan
Pemkot Samarinda telah menetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari. Pemerintah mengambil langkah tersebut untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemarau yang berkembang cepat.
Andi menjelaskan Samarinda memiliki empat tingkat kerawanan kekeringan. Tingkatan tersebut terdiri dari normal, waspada, siaga, dan kritis.
Saat ini, kondisi Samarinda sudah melewati fase normal dan masuk tingkat siaga.
Pemerintah terus memantau perkembangan kondisi tersebut. Pemantauan juga bertujuan menjaga pelayanan air bersih bagi masyarakat.
Wali Kota Minta Warga Cegah Karhutla
Kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda.
Andi Harun mengatakan sebagian besar karhutla bukan terjadi karena faktor alam. Ia menduga sejumlah kasus muncul akibat ulah oknum yang sengaja membakar lahan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat ikut mengawasi lingkungan masing-masing. Warga juga dapat melakukan patroli mandiri selama 24 jam untuk mencegah kebakaran.
Andi turut mengapresiasi jaringan kamera pengawas atau CCTV melalui program Pro Bebaya. Kamera tersebut tersebar di berbagai wilayah Kota Samarinda.
Menurutnya, keberadaan CCTV membantu pemerintah dan aparat mendeteksi dugaan pembakaran lahan sejak awal.
Kasus ISPA Samarinda Naik 22,08 Persen
Selain ketersediaan air, Andi Harun meminta masyarakat memperhatikan kondisi kesehatan selama kemarau.
Ia menyebut kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Agustus 2026 naik 22,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi udara yang berdebu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan tersebut.
Andi meminta masyarakat kembali menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Ia juga mengimbau warga menyiapkan tampungan air bersih secukupnya. Masyarakat perlu menggunakan persediaan air secara bijak untuk menghadapi kondisi kemarau.
(Redaksi)
