ANALITIKNEWS.COM – Gelombang kritik terhadap kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menguat. Presiden LaLiga Javier Tebas secara terbuka mendesak pria asal Swiss itu mundur dari jabatannya setelah menilai berbagai kebijakan FIFA telah menggerus integritas sepak bola.
Menurut Tebas, organisasi sepak bola dunia kini lebih mengedepankan kepentingan komersial dibanding menjaga nilai sportivitas dan independensi kompetisi.
Sorotan terhadap Infantino mencuat setelah sejumlah keputusan FIFA selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 memicu kontroversi.
Mulai dari penerapan hydration break yang dinilai membuka ruang lebih besar bagi kepentingan iklan hingga keputusan menganulir hukuman kartu merah pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun.
FIFA juga menjadi sasaran kritik karena dianggap kehilangan wibawa di hadapan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Polemik semakin berkembang setelah muncul klaim mengenai adanya intervensi Gedung Putih dalam penangguhan kartu merah Balogun. Di sisi lain, penolakan masuk terhadap wasit asal Somalia, Omar Artan, ke wilayah Amerika Serikat turut memunculkan pertanyaan mengenai kewenangan FIFA dalam mengelola turnamen terbesar sepak bola dunia.
Kontroversi lain yang mendapat sorotan adalah wacana penambahan peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim. Kebijakan tersebut dinilai banyak pihak lebih menguntungkan dari sisi bisnis karena akan menambah jumlah pertandingan, penjualan tiket, serta pendapatan komersial FIFA.
Bagi Tebas, rentetan polemik tersebut menjadi bukti bahwa kepemimpinan Infantino sudah tidak lagi sejalan dengan kepentingan sepak bola. Ia pun menilai sudah saatnya FIFA melakukan pergantian pemimpin.
“Infantino tidak tertarik pada sepakbola, tetapi ia mendapat dukungan dari federasi-federasi karena tidak ada yang berani menentangnya,” kata Tebas, dilansir dari A Bola.
Presiden LaLiga itu menegaskan bahwa Infantino seharusnya bertanggung jawab atas berbagai persoalan yang mencuat dengan mengundurkan diri dari jabatan Presiden FIFA.
“Menurut pendapat saya, ya, saya pikir waktunya telah tiba [untuk mundur]! Namun dia mendapat dukungan dari sistem, dari federasi-federasi,” dia menambahkan.
Tebas juga mengkritik sistem politik di tubuh FIFA yang dinilainya membuat perubahan kepemimpinan sulit terjadi. Menurutnya, tidak ada figur yang berani menjadi penantang karena mayoritas federasi tetap memberikan dukungan kepada Infantino.
“Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang ingin kalah. Begitulah sistemnya dan sistem ini sakit dari akarnya. Dia seharusnya tidak bertahan di posisinya saat ini, tetapi keadaan mengharuskan dia untuk tidak mundur.”
Ia menambahkan, banyak tokoh sepak bola sebenarnya memiliki pandangan yang sama terhadap kepemimpinan Infantino, tetapi memilih tidak bertindak.
“Akhir-akhir ini di Amerika saya mendengar begitu banyak orang menentang Infantino, yang tidak setuju dengan apa yang dia lakukan. Mereka bersuara tapi tidak melakukan apa pun. Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, diam atau terlibat, karena mereka yang tetap diam sangat menyadari kerusakan yang diderita sepakbola,” tegasnya.
(*)
