Konflik Memanas, Trump Ancam Serang Infrastruktur Strategis Iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

ANALITIKNEWS.COM – Washington kembali meningkatkan tekanan terhadap Teheran setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan langkah baru yang menyasar sektor ekonomi dan militer Iran.

Selain memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran, Trump juga mengancam akan menyerang sejumlah infrastruktur penting seperti pembangkit listrik dan jembatan jika pemerintah Iran tetap menolak kembali ke meja perundingan.

Ketegangan antara kedua negara tersebut kembali meningkat di tengah rangkaian aksi militer yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Perkembangan ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik, terutama karena meningkatnya aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi global.

Trump Siapkan Target Baru Jika Iran Menolak Negosiasi

Trump mengatakan Amerika Serikat masih membuka peluang diplomasi dengan Iran. Namun, ia menegaskan Washington telah menyiapkan langkah lanjutan apabila Teheran tidak segera merespons ajakan perundingan.

“Minggu depan giliran pembangkit listrik, minggu depan giliran jembatan-jembatan, kecuali mereka mau duduk bersama dan bernegosiasi,” ujar Trump dikutip dari Reuters, Rabu (15/7/2026).

Trump menyebut para negosiator AS telah melakukan komunikasi dengan pihak Iran untuk mencari kemungkinan kesepakatan. Meski demikian, ia menegaskan pemerintahannya tetap mempertahankan opsi serangan terhadap fasilitas strategis Iran.

“Saya simpan target energi untuk bagian terakhir, tapi pada akhirnya kami akan menghantam target-target energi tersebut,” jelas Trump.

Militer AS Lakukan Operasi Baru di Iran

Sejalan dengan pernyataan Trump, militer AS mengumumkan telah melancarkan rangkaian serangan baru terhadap sasaran yang berkaitan dengan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Militer AS menyatakan operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam melakukan serangan terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi kawasan tersebut. Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.

Laporan menyebut sejumlah proyektil AS menghantam wilayah Bandar Abbas dan kawasan dekat Sirik di Iran selatan. Namun, pemerintah AS belum memberikan keterangan lebih rinci mengenai sasaran maupun dampak serangan tersebut.

Iran Klaim Balas Serangan AS

Di sisi lain, Iran mengklaim telah melakukan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas yang terkait dengan militer AS di kawasan.

Militer Iran menyatakan telah meluncurkan serangan drone ke pangkalan AS di Azraq, Yordania, pada Rabu (15/7) dini hari. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah membombardir fasilitas senjata di Bahrain dan Kuwait.

Hingga kini, militer AS belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim serangan tersebut.

Pemerintah Iran menegaskan tidak akan mengubah sikap meski menghadapi tekanan militer dan ekonomi dari Washington. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan ancaman dan blokade tidak akan membuat negaranya kembali berunding.

“Jika AS berpikir bahwa memperketat tindakan terhadap kami, melalui aksi militer dan blokade ekonomi, kami akan kembali bernegosiasi, maka mereka telah melakukan kesalahan besar,” ujarnya.

Meningkatnya aksi saling ancam antara AS dan Iran membuat situasi keamanan di Timur Tengah semakin tidak stabil. Dunia internasional kini mengamati perkembangan konflik tersebut karena eskalasi lebih lanjut berpotensi mengganggu perdagangan energi dan keamanan jalur pelayaran global.

(*)