ANALITIKNEWS.COM – Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah memuncak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim armada tempurnya berhasil menghancurkan sekitar sembilan kapal tanker milik Iran di perairan strategis Selat Hormuz. Aksi gempuran masif ini menandai eskalasi baru di tengah perselisihan kedua negara yang kian memanas.
“Anda akan melihat lebih banyak lagi. Kami telah menghancurkan sekitar sembilan kapal tanker mereka,” ujar Trump kepada wartawan menjelang keberangkatannya ke Dallas, Texas.
Proyeksi Akhir Perang
Meski intensitas serangan meningkat, Trump optimistis konfrontasi bersenjata antara AS dan Iran tidak akan berlangsung berlarut-larut. Ia memproyeksikan pertempuran bakal mereda tak lama setelah gelombang pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) pada 3 November mendatang.
“Saya pikir perang akan berakhir segera setelah pemilihan karena mereka (Iran) tak bisa bertahan lebih lama lagi,” kata Trump.
Sikap Tegas Soal Perjanjian Nuklir
Di samping aksi militer di lautan, Trump menegaskan bahwa pemerintahannya sama sekali tidak berminat untuk kembali ke meja perundingan nuklir bersama Teheran. Ia tetap mempertahankan komitmennya untuk melenyapkan seluruh potensi program nuklir Iran secara total.
“Kami tidak mencarinya. Ya, negosiasi mungkin saja terjadi, tetapi itu bukan sesuatu yang kami pertimbangkan,” imbuh dia, dikutip Anadolu Agency.
Trump meyakini strategi yang diterapkan pemerintah AS saat ini sudah jauh melampaui kerangka kesepakatan nuklir terdahulu.
“Ada banyak hal selain senjata nuklir. [AS akan] memiliki senjata nuklir, itu 99,9 persen tetapi akan ada banyak hal lain yang dipertimbangkan,” ungkapnya.
Gencatan Senjata Terancam Batal
Pernyataan keras Trump mencetuskan kekhawatiran baru di tingkat internasional. Padahal, sebelum pertempuran di Selat Hormuz kembali berkobar dalam beberapa hari terakhir, kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perselisihan.
(*)
