ANALITIKNEWS.COM – Upaya memperkuat kemandirian pangan menjadi salah satu agenda penting dalam pembangunan Kota Samarinda. Pemerintah Kota Samarinda didorong untuk semakin serius mengoptimalkan potensi lahan yang selama ini belum produktif agar dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dorongan tersebut datang dari Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Kamaruddin. Menurutnya, kemandirian pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan bahan pangan di pasaran, tetapi juga menyangkut kemampuan daerah dalam meningkatkan produksi pangan dari wilayah sendiri.
Dengan potensi lahan yang masih tersedia, Samarinda dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan sektor pertanian secara lebih terarah. Jika dikelola dengan perencanaan yang matang dan dukungan kebijakan berkelanjutan, lahan-lahan tersebut dapat menjadi sumber produksi pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Ada lahan yang justru digunakan untuk aktivitas tambang ilegal. Padahal, sebagian kawasan tersebut bisa diarahkan untuk persawahan maupun kegiatan pertanian yang dikelola langsung oleh masyarakat,” kata Kamaruddin.
Dari Lahan Tidur Menjadi Sumber Ekonomi
Optimalisasi lahan dinilai dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Samarinda terhadap pasokan pangan dari luar daerah.
Selama ini, sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat masih harus didatangkan dari luar Kalimantan Timur. Bawang merah, bawang putih hingga beras merupakan contoh komoditas yang pasokannya belum sepenuhnya mampu dipenuhi melalui produksi lokal.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan besarnya peluang pengembangan pertanian di Samarinda. Dengan pemetaan lahan yang tepat, pemerintah dapat menentukan kawasan yang sesuai untuk persawahan, hortikultura maupun komoditas pangan lainnya.
Langkah tersebut bukan sekadar meningkatkan produksi. Pengembangan lahan pertanian juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat serta mendorong tumbuhnya sektor usaha pendukung, mulai dari pengolahan hasil pertanian hingga distribusi pangan.
Karena itu, DPRD Samarinda mendorong agar program pengembangan pertanian tidak berhenti pada penyediaan lahan. Pemerintah perlu memastikan seluruh ekosistem pendukungnya tersedia sehingga masyarakat yang terlibat dapat menjalankan kegiatan pertanian secara produktif dan berkelanjutan.
Infrastruktur Pertanian Harus Diperkuat
Kamaruddin menegaskan, pembangunan infrastruktur menjadi bagian penting dalam mewujudkan kawasan pertanian produktif. Lahan yang tersedia tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak ditunjang sistem pengairan yang memadai.
Jaringan irigasi dan infrastruktur pengairan di sejumlah kawasan pertanian Samarinda dinilai masih perlu diperkuat. Pemerintah diharapkan menjadikan kebutuhan tersebut sebagai bagian dari perencanaan pembangunan sehingga pengembangan sektor pertanian dapat berjalan secara konsisten.
“Pertanian tidak akan berkembang maksimal hanya dengan menyediakan lahan. Infrastruktur pendukung, terutama irigasi dan sistem pengairan, harus menjadi perhatian utama. Dengan dukungan pengairan yang memadai, lahan pertanian dapat dikelola secara berkelanjutan,” ujarnya
Menurutnya, pembangunan infrastruktur pertanian akan memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat. Sistem pengairan yang baik memungkinkan lahan dikelola secara lebih optimal dan membantu petani menjaga keberlangsungan produksi.
Mengurangi Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah
Ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar wilayah menjadi tantangan yang perlu diantisipasi. Untuk komoditas tertentu, Samarinda masih bergantung pada sentra produksi di luar Kalimantan Timur.
Bahkan, kebutuhan beras masih dipasok dari sejumlah daerah sentra produksi di Pulau Jawa dan Sulawesi. Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah daerah untuk mulai memperkuat basis produksi pangan lokal.
Kamaruddin menilai penguatan produksi lokal bukan berarti menutup pasokan dari luar daerah, melainkan membangun kemampuan daerah agar memiliki sumber pangan sendiri yang semakin kuat.
“Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah masih cukup tinggi. Untuk bawang merah dan bawang putih, misalnya, sebagian besar kebutuhan masih didatangkan dari luar,” ujarnya.
(*)
