ANALITIKNEWS.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Konflik ini telah pecah sejak akhir Februari 2026. Saat itu, Iran langsung merespon dengan membatasi akses di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Langkah ini langsung memicu kekhawatiran di pasar global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati wilayah tersebut.
Dampak dari situasi tersebut mulai terasa di pasar energi internasional, dengan fluktuasi harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global.
Selat Hormuz menjadi titik tekan utama dalam dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Di tengah perkembangan tersebut, pernyataan keras juga muncul dari pihak Teheran.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei-Nik, menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak lagi memiliki posisi untuk menentukan kebijakan negara lain.
“Amerika Serikat tidak lagi berhak mendikte kebijakannya kepada negara-negara merdeka,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip media setempat.
Dia menambahkan bahwa Washington harus “menerima bahwa mereka harus meninggalkan tuntutan-tuntutan ilegal dan irasionalnya”.
Gencatan Senjata Belum Akhiri Konflik Permanen
Meskippun gencatan senjata telah menghentikan pertempuran antara Iran, AS, dan Israel, tapi pembicaraan untuk mengakhiri konflik secara permanen belum membuahkan hasil.
Proposal baru Iran yang sedang dipertimbangkan di Washington dilaporkan akan membuka kembali Selat Hormuz. Sementara negosiasi yang lebih luas tentang perang terus berlanjut.
Pemerintah Iran telah menegaskan pihaknya membutuhkan jaminan yang kredibel terhadap serangan lainnya dari AS dan Israel. Sebelum dapat memastikan keamanan di kawasan Teluk yang kaya minyak.
Penegasan itu datang dari Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, saat berbicara dalam sesi Dewan Keamanan PBB.
Dalam pertemuan di markas besar PBB pada Senin (27/4), puluhan negara mengutuk Iran karena mengambil alih kendali atas Selat Hormuz.
Namun, Iravani menekankan bahwa stabilitas di kawasan hanya dapat tercapai jika agresi berhenti, dengan “jaminan yang kredibel” untuk tidak ada lagi serangan di masa mendatang.
“Stabilitas dan keamanan yang langgeng di Teluk Persia dan kawasan yang lebih luas dapat tercapai. Nammun harus melalui penghentian agresi yang berkelanjutan dan permanen terhadap Iran. Ini harus dengan jaminan yang kredibel untuk tidak terulangnya serangan dan penghormatan penuh terhadap hak dan kepentingan kedaulatan Iran yang sah,” tegas Iravani di hadapan Dewan Keamanan PBB.
Iran Tuduh AS Lakukan Blokade Laut
Berbicara kepada wartawan setelah sesi Dewan Keamanan PBB itu, Iravani mengeluhkan negara-negara hanya mengkritik Iran, tanpa mengecam blokade laut yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran.
“Amerika Serikat bertindak seperti bajak laut dan teroris. Mereka menargetkan kapal-kapal komersial melalui paksaan dan intimidasi, meneror awak kapal, secara ilegal menyita kapal. Mereka menyandera anggota awak kapal,” pungkasnya.
(*)










