Ketua Umum Muhammadiyah Ajak Umat Islam Sikapi Perbedaan Awal Ramadan dengan Bijak

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir
banner 120x600
banner 468x60

ANALITIKNEWS.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya sikap saling menghormati dalam menghadapi perbedaan penentuan awal Ramadan.

Ia menegaskan, perbedaan merupakan bagian dari ruang ijtihad yang harus dihargai, sehingga tidak perlu ada saling menyalahkan.

banner 325x300

“Perbedaan adalah bagian dari ruang ijtihad. Tidak ada yang harus merasa paling benar sendiri, dan kita tidak perlu saling menyalahkan,” ujar Haedar pada Selasa (17/2).

Ia menambahkan, sikap bijaksana dalam menghadapi perbedaan sangat penting karena tujuan utama puasa adalah peningkatan takwa.

Haedar menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk pribadi yang lebih bertakwa.

“Perbedaan harus disikapi dengan arif bijaksana. Terlebih, puasa itu tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan takwa, baik peningkatan takwa untuk pribadi maupun kolektif,” ujarnya.

Haedar juga berpesan supaya Puasa Ramadan 1447 H dapat umat Islam jalankan dengan tenang, damai, penuh kematangan, dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan termasuk perbedaan awal Ramadan.

“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” pesan Haedar.

Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan berdasrkan pada hasil hisab hakiki wujudulhilal yang di pedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Melalui Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari 2026.

Berdasarkan maklumat tersebut, Muhammadiyah akan mulai melaksanakan puasa Ramadan pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara itu, Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Kemenag Gelar Sidang Isbat Tentukan Awal Ramadan

Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) akan menggelar sidang isbat untuk menentukan  awal Ramadhan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026).

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) akan memantau hilal (rukyatul hilal) di 96 titik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Ini sebagai dasar penetapan awal bulan suci umat Islam tersebut.

Mengutip informasi resmi dari akun Instagram Kemenag, panitia membagi sidang ke dalam tiga sesi.

Pertama, seminar posisi hilal pada pukul 16.30 WIB. Kedua, pelaksanaan sidang isbat pada pukul 18.30 WIB. Ketiga, konferensi pers penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah pada pukul 19.05 WIB.

Panitia menyelenggarakan seluruh tahapan secara terbuka dan masyarakat dapat menyaksikannya melalui channel YouTube Bimas Islam TV. Kemudian kanal YouTube Kementerian Agama RI, serta platform media sosial Bimas Islam. Namun, panitia menggelar sesi pelaksanaan sidang isbat secara tertutup.

Sidang Isbat di Hotel Borobudur Jakarta

Sebagai informasi, panitia tidak menggelar sidang isbat kali ini di Kantor Kementerian Agama yang berlokasi di Thamrin, Jakarta, melainkan di Hotel Borobudur Jakarta.

Kementerian Agama memindahkan lokasi dari kantor Kemenag karena mempertimbangkan kapasitas ruangan.

“Merujuk surat Direktur Urusan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kemenag, guna penyesuaian kapasitas ruang, kami mengalihkan pelaksanaan Sidang Isbat Awal Ramadan 1447 H/2026 M dari Auditorium H.M. Rasjidi, Gedung Kemenag Jl. MH Thamrin, ke Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Demikian dan terima kasih,” kata Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama.

Selain dari Kemenag, berbagai pemangku kepentingan juga menghadiri Sidang Isbat, antara lain Pimpinan Komisi VIII DPR, Mahkamah Agung, BMKG, para ahli falak, perwakilan ormas Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama, serta utusan negara-negara sahabat.

(*)

banner 325x300