ANALITIKNEWS.COM – Kebutuhan ruang belajar dan literasi di luar jam kerja mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengembalikan jam operasional perpustakaan hingga malam hari. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Samarinda resmi membuka kembali layanan perpustakaan sampai pukul 20.00 WITA.
Ini sebagai respons atas masukan dan aspirasi masyarakat, terutama dari kalangan pekerja dan pelajar.
Kebijakan ini menjadi angin segar bagi warga yang selama ini kesulitan mengakses layanan perpustakaan pada siang hari. Banyak masyarakat menyampaikan keluhan melalui media sosial, meminta perpustakaan jam bukanya lebih lama agar dapat berkunjung setelah jam kantor atau sekolah.
Respons Aspirasi Warganet
Kepala Dispursip Samarinda, Erham Yusuf, menegaskan bahwa pembukaan layanan malam hari merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memperluas akses literasi bagi masyarakat. Menurutnya, perpustakaan tidak boleh hanya menjadi ruang formal yang terbatas waktu, tetapi harus menyesuaikan kebutuhan publik.
“Permintaan masyarakat cukup besar, terutama mereka yang bekerja hingga sore. Karena itu, kami memutuskan mengembalikan jam operasional sampai malam,” kata Erham.
Meski demikian, Erham mengakui kebijakan ini belum sesuai dengan tambahan tunjangan bagi petugas yang berjaga hingga malam hari. Pihak mereka hanya mampu memberikan kompensasi berupa konsumsi selama jam kerja tambahan.
Tanpa Uang Lembur, Hanya Kompensasi Konsumsi
Erham menjelaskan bahwa petugas perpustakaan yang bertugas hingga pukul 20.00 WITA tidak menerima uang lembur. Penetapan kebijakan tersebut karena keterbatasan anggaran dan ketiadaan payung hukum yang mengatur tunjangan kerja malam.
“Memang tidak ada tunjangan, tapi ada kompensasi berupa makan dan minum. Sistemnya mirip kerja sukarela, karena tidak semua orientasinya uang,” ungkap Erham.
Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mengambil risiko dalam pengelolaan keuangan daerah. Jika anggaran tunjangan dipaksakan tanpa dasar regulasi yang jelas, hal tersebut justru berpotensi menjadi temuan dalam audit keuangan.
“Kami harus taat aturan. Kalau tidak ada anggarannya lalu dipaksakan, itu bisa jadi masalah hukum,” ujarnya.
Tidak Semua Petugas Perpustakaan adalah Pustakawan
Di sisi lain, Pustakawan Ahli Muda Dispursip Samarinda, Nur Hikmah atau akrab disapa Inui, meluruskan pemahaman publik tentang profesi di lingkungan perpustakaan. Ia menyebutkan bahwa tidak semua petugas yang berjaga di perpustakaan merupakan pustakawan.
“Saat ini, pustakawan murni hanya tujuh orang. Yang berjaga di front office hingga malam biasanya staf administrasi atau pengelola,” jelas Inui.
Menurutnya, pustakawan merupakan jabatan fungsional dengan tugas teknis yang spesifik, mulai dari klasifikasi buku, pemberian label, pengelolaan katalog, hingga pembinaan perpustakaan sekolah agar sesuai standar nasional.
“Pustakawan itu profesi, sama seperti guru atau dokter. Pekerjaannya tidak selalu terlihat langsung oleh pengunjung,” tambahnya.
Kesejahteraan Pustakawan Masih Jadi Tantangan
Inui juga mengakui bahwa dari sisi kesejahteraan, profesi pustakawan masih tertinggal perbandingannya dengan profesi lain. Berbeda dengan guru atau dosen yang memperoleh tunjangan sertifikasi setara satu kali gaji, pustakawan belum mendapatkan kebijakan serupa meskipun memiliki sertifikasi profesi.
“Kalau soal tunjangan, itu kebijakan nasional, bukan kewenangan daerah,” ujarnya.
Meski demikian, Inui menegaskan bahwa keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat pustakawan dan staf dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan.
Fasilitas Perpustakaan Samarinda Semakin Lengkap
Selain memperpanjang jam operasional hingga malam hari, juga terus melakukan pembenahan fasilitas untuk menarik minat masyarakat. Perpustakaan kini menyediakan ruang disabilitas, ruang laktasi, serta layanan konsultasi psikologi anak bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA).
Pihaknya juga aktif menyegarkan koleksi buku dengan memantau tren bacaan di media sosial. Buku-buku yang sedang populer di kalangan anak muda sesegera mungkin agar bisa masyarakat akses gratis.
“Kalau ada buku yang ramai dibicarakan, kami pantau dan usahakan pengadaan. Anak muda bisa membaca gratis di sini,” kata Inui.
Ruang Literasi Terbuka Hingga Malam
Tak hanya itu, perpustakaan Samarinda juga menyediakan aula dan mini teater yang dapat berguna secara gratis untuk kegiatan diskusi, bedah buku, dan acara literasi lainnya. Harapan fasilitas ini menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang hidup, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Dengan kembalinya jam operasional malam, harapannya perpustakaan tidak lagi hanya sekadar tempat meminjam buku, melainkan pusat aktivitas literasi yang seluruh lapisan masyarakat dapat akses.
(Redaksi)





