{"id":6040,"date":"2025-10-26T01:33:41","date_gmt":"2025-10-26T01:33:41","guid":{"rendered":"https:\/\/analitiknews.com\/?p=6040"},"modified":"2025-10-26T01:33:41","modified_gmt":"2025-10-26T01:33:41","slug":"denada-angkat-bicara-soal-hinaan-di-media-sosial-kritik-boleh-tapi-jangan-kelewatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/denada-angkat-bicara-soal-hinaan-di-media-sosial-kritik-boleh-tapi-jangan-kelewatan\/","title":{"rendered":"Denada Angkat Bicara Soal Hinaan di Media Sosial: Kritik Boleh, Tapi Jangan Kelewatan"},"content":{"rendered":"<p><strong>ANALITIKNEWS.COM &#8211;<\/strong> Kehadiran media sosial di era digital ibarat pisau bermata dua.<\/p>\n<p>Di satu sisi, platform ini mempermudah siapa pun untuk berkarya dan terhubung dengan publik.<\/p>\n<p>Namun di sisi lain, kemudahan yang sama sering kali membuat sebagian pengguna lupa menjaga etika dalam berkomentar.<\/p>\n<p>Fenomena ini dirasakan langsung oleh sejumlah publik figur, salah satunya penyanyi dan instruktur zumba, Denada Tambunan.<\/p>\n<p>Melansir berbagai sumber, Sabtu (25\/10\/2025), Denada kerap menjadi sasaran kritik tajam hingga hinaan di media sosial.<\/p>\n<p>Komentar negatif yang diterimanya sering berkaitan dengan pilihan busana yang dianggap terlalu terbuka atau seksi.<\/p>\n<p>Penyanyi yang juga dikenal dengan gaya panggungnya yang energik itu tak jarang mengunggah potret dirinya mengenakan crop top atau pakaian olahraga yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.<\/p>\n<p>Pilihan fesyen tersebut rupanya menuai beragam respons dari warganet\u2014dari pujian hingga cibiran.<\/p>\n<p>Meski sudah lama bergelut di dunia hiburan, Denada mengaku tetap prihatin dengan cara sebagian orang melontarkan kritik yang menjurus ke penghinaan.<\/p>\n<p>\u201cKita setuju dikritik, iya. Tapi bukan berarti mentang-mentang kita publik figure, kita selalu halal untuk dihina,\u201d ujar Denada menegaskan.<\/p>\n<p>Menurutnya, menjadi publik figur memang berarti siap menerima sorotan publik.<\/p>\n<p>Namun, hal itu bukan pembenaran bagi siapa pun untuk menyerang secara pribadi atau menggunakan kata-kata kasar.<\/p>\n<p>\u201cKadang orang lupa, kalau di balik layar itu kita juga manusia. Ada perasaan, ada batasnya juga,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Denada, yang merupakan putri dari penyanyi legendaris Diana Nasution, mengaku memahami bahwa kritik merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia hiburan.<\/p>\n<p>Namun, menurutnya ada garis halus yang membedakan antara kritik membangun dan komentar yang melukai mental seseorang.<\/p>\n<p>\u201cIya benar, itu yang kadang orang lupa,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti fenomena maraknya ujaran kebencian di media sosial.<\/p>\n<p>Dengan akses yang semakin mudah dan anonim, banyak orang merasa bebas melontarkan pendapat tanpa memikirkan dampaknya.<\/p>\n<p>\u201cKadang-kadang suka kasihan, karena ada beberapa orang yang mungkin kayak aku udah terbiasa, ya udah, it&#8217;s just part of the game. Tapi kan ada juga yang sampai kena mental karena hal-hal kayak gitu. Jadi berbaik-baiklah,\u201d pesan Denada.<\/p>\n<p>Penyanyi yang memulai karier sejak akhir 1990-an ini mengaku dirinya sudah cukup terbiasa menghadapi komentar negatif.<\/p>\n<p>Namun ia khawatir dengan dampaknya bagi orang lain yang mungkin belum sekuat dirinya.<\/p>\n<p>\u201cTidak semua orang punya daya tahan mental yang sama. Ada yang akhirnya menarik diri, stres, bahkan depresi. Makanya aku berharap, semoga orang-orang bisa lebih bijak menggunakan media sosial,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Denada juga menjelaskan alasan di balik pilihan busananya yang sering menjadi perbincangan. Ia menegaskan bahwa pakaian yang dikenakannya bukan semata-mata untuk tampil seksi, tetapi lebih pada faktor kenyamanan dan kebutuhan profesinya.<\/p>\n<p>\u201cAku instruktur zumba dan suka olahraga, jadi kalau nyanyi di panggung juga harus banyak bergerak. Pakaian yang kupakai pasti harus bisa mendukung itu,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Menurut Denada, fesyen adalah bentuk ekspresi diri.<\/p>\n<p>Ia percaya setiap orang berhak memilih gaya berpakaian yang membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri, tanpa harus takut dengan penilaian orang lain.<\/p>\n<p>\u201cKalau aku nyaman dan merasa bisa tampil maksimal, kenapa tidak? Selama nggak mengganggu orang lain, aku pikir sah-sah aja,\u201d ujarnya dengan santai.<\/p>\n<p>Meski sudah terbiasa menerima cibiran, Denada tidak selalu diam. Ada kalanya ia menanggapi komentar pedas dari warganet, meski hanya untuk bersenang-senang.<\/p>\n<p>\u201cKalau lagi isengnya kumat banget, bener-bener macet banget, nggak tahu lagi mau ngapain, udah kerjain semua kerjaan, ya pengen bales,\u201d katanya sambil tertawa.<\/p>\n<p>Namun, ia menegaskan bahwa sebagian besar waktu ia memilih untuk tidak ambil pusing. Menurutnya, membalas semua komentar negatif justru akan menguras energi dan tidak memberikan manfaat.<\/p>\n<p>\u201cSekarang aku lebih banyak fokus ke hal-hal positif aja. Kalau ada yang ngomongin buruk, yaudah. Toh hidupku juga bukan buat nyenengin semua orang,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Denada juga berharap publik bisa lebih memahami posisi para figur publik.<\/p>\n<p>Di balik popularitas dan sorotan kamera, mereka tetap manusia biasa yang bisa merasa sakit hati.<\/p>\n<p>\u201cKita semua punya kehidupan pribadi, punya anak, keluarga, tanggung jawab. Jadi semoga ke depannya orang-orang bisa lebih menghargai satu sama lain,\u201d pungkasnya. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANALITIKNEWS.COM &#8211; Kehadiran media sosial di era digital ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6041,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"googlesitekit_rrm_CAowhrbCDA:productID":"","kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[2,1],"tags":[2027,1547],"newstopic":[],"class_list":["post-6040","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-uncategorized","tag-denada-tambunan","tag-media-sosial"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6040","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6040"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6040\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6042,"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6040\/revisions\/6042"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6041"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6040"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6040"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6040"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.analitiknews.com\/amp\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=6040"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}