ANALITIKNEWS.COM – Winger Timnas Brasil, Raphinha, menilai bahwa timnya masih memiliki pekerjaan rumah besar di sektor pertahanan meski tampil menjanjikan dalam urusan menyerang menjelang Piala Dunia 2026.
Menurut Raphinha, performa lini depan Timnas Brasil sudah menunjukkan perkembangan positif di bawah pelatih Carlo Ancelotti. Namun, ia menekankan bahwa kelemahan utama saat ini justru terlihat ketika tim kehilangan bola dan menghadapi serangan balik lawan.
Raphinha menyebut bahwa masalah tersebut tidak bisa dibebankan hanya kepada lini belakang, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh pemain untuk lebih disiplin dalam transisi bertahan. Ia menilai, jika Brasil ingin kembali meraih gelar juara dunia, keseimbangan antara menyerang dan bertahan harus segera diperbaiki.
Brasil tampil agresif sepanjang 11 laga terakhir di semua kompetisi. Tim ini mencatat enam kemenangan, dua hasil imbang, dan tiga kekalahan. Dari sisi ofensif, Brasil mencetak 24 gol, angka yang menunjukkan kekuatan lini depan mereka tetap menjadi salah satu yang paling berbahaya di dunia.
Raphinha dan para penyerang Brasil terus membangun kombinasi cepat, memanfaatkan kecepatan, kreativitas, serta fleksibilitas dalam menyerang. Ancelotti juga mendorong transisi cepat dari lini tengah ke lini depan untuk menciptakan peluang sebanyak mungkin.
Kekhawatiran di Lini Pertahanan
Meski produktif, Brasil juga kebobolan 10 gol dalam periode yang sama. Catatan ini memicu perhatian internal tim, terutama dari Raphinha yang melihat adanya ketidakseimbangan dalam performa.
Ia menegaskan pentingnya kerja kolektif dalam bertahan.
“Kami tahu, kami kuat dalam urusan menyerang lawan. Tapi soal pertahanan, jika kami bisa bertahan bersama-sama maka itu akan membuat lawan frustrasi,” paparnya dilansir dari SporTV.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Brasil tidak bisa hanya mengandalkan kualitas individu di lini belakang, tetapi harus membangun sistem pertahanan yang kompak dari semua lini.
Tantangan Berat di Grup C
Brasil tergabung di Grup C Piala Dunia 2026 bersama Haiti, Maroko, dan Skotlandia. Grup ini menuntut konsistensi tinggi karena setiap tim memiliki karakter permainan yang berbeda.
Maroko membawa disiplin taktik yang kuat, Skotlandia mengandalkan fisik dan intensitas, sementara Haiti bisa memberikan kejutan melalui permainan cepat. Kondisi ini membuat Brasil harus menjaga konsentrasi penuh di setiap pertandingan.
Evaluasi di Bawah Carlo Ancelotti
Sejak memimpin Brasil, Carlo Ancelotti mencoba menyeimbangkan gaya menyerang khas Brasil dengan struktur pertahanan yang lebih disiplin. Namun, hasil 10 kebobolan dalam 11 laga menunjukkan proses adaptasi belum sepenuhnya stabil.
Ancelotti terus menguji kombinasi pemain muda dan senior untuk menemukan formula terbaik. Ia menekankan pentingnya kontrol tempo dan kedisiplinan posisi agar Brasil tidak mudah terekspos saat kehilangan bola.
Pesan Penting dari Raphinha
Raphinha menilai Brasil sudah berada di jalur yang benar, tetapi masih membutuhkan konsistensi dalam detail permainan. Ia menyoroti pentingnya pemahaman taktik dan pengambilan keputusan cepat di lapangan.
“Kami harus lebih memahami permainan dan cepat mengontrolnya. Kami memiliki momen-momen dalam pertandingan di mana kami bisa mengontrolnya dengan lebih baik dan momen-momen lain di mana kami bisa mempercepat tempo permainan, itu akan jadi detail pembeda,” paparnya.
Ia juga menekankan pentingnya kekompakan tim yang dihuni kombinasi pemain muda dan senior.
“Tim kami campuran para pemain muda dan pemain-pemain senior. Kami harus bersatu, serta harus hindari kesalahan kecil karena bisa saja itu menentukan segalanya,” tutup pemain Barcelona tersebut.
Dengan kombinasi talenta besar dan evaluasi berkelanjutan, Brasil masih menjadi salah satu kandidat kuat juara. Namun, keseimbangan antara menyerang dan bertahan akan menjadi kunci utama perjalanan mereka di Piala Dunia 2026.
(*)








